Panduan resmi mengenai peralihan metode penentuan awal bulan Kamariah Muhammadiyah dari Wujudul Hilal ke KHGT.
TIDAK. Muhammadiyah secara resmi telah memutuskan untuk MENINGGALKAN metode Wujudul Hilal (yang hanya mensyaratkan hilal di atas ufuk). Muhammadiyah kini beralih sepenuhnya menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Metode Wujudul Hilal resmi digantikan oleh KHGT mulai 1 Muharram 1447 H atau bertepatan dengan 26 Juni 2025 M (dimulai sejak maghrib 25 Juni 2025). Setelah tanggal tersebut, seluruh penentuan awal bulan Kamariah di lingkungan Muhammadiyah menggunakan kriteria baru KHGT.
Muhammadiyah kini menggunakan kriteria Imkanur Rukyat Global (Visibilitas Hilal Global) yang lebih ketat dan ilmiah, yaitu:
Kriteria "5-8" ini jauh lebih tinggi dibandingkan kriteria Wujudul Hilal (0 derajat) maupun MABIMS (3-6.4), demi memastikan hilal benar-benar mungkin terlihat secara global.
Wujudul Hilal adalah ijtihad pada zamannya untuk kepastian lokal. Namun, tuntutan zaman modern mengharuskan adanya kepastian global dan kesatuan umat Islam sedunia (Ittihadul Mathali'). KHGT dengan kriteria 5-8 derajat dipilih karena dapat menyatukan seluruh dunia dalam satu hari tanggal yang sama, sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh Wujudul Hilal maupun Rukyat Lokal.
KHGT adalah sistem penanggalan Hijriah terbaru yang diadopsi Muhammadiyah untuk menggantikan sistem lama. Sifatnya tunggal dan berlaku untuk seluruh dunia (global). Tujuannya adalah menyatukan permulaan bulan kamariah bagi seluruh umat Islam di dunia dengan prinsip satu hari satu tanggal.
KHGT diperlukan untuk mengakhiri perbedaan tanggal ibadah (puasa, Idulfitri, Wukuf) yang selama ini terjadi akibat penggunaan metode lokal (baik rukyat lokal maupun hisab wujudul hilal lokal). KHGT menawarkan solusi untuk mewujudkan persatuan (ukhuwah) umat Islam sedunia.
Tujuannya ada dua: (1) Menyatukan penanggalan Hijriah di seluruh dunia. (2) Memberikan kepastian waktu jangka panjang dengan kriteria visibilitas yang tinggi (5-8 derajat) agar dapat diterima secara astronomis dan syar'i.
Gagasan ini didiskusikan oleh ulama dunia. Di Indonesia, Muhammadiyah adalah pelopor utama yang berani mengambil langkah progresif meninggalkan metode lamanya demi mewujudkan KHGT, terutama setelah Keputusan Muktamar Tarjih ke-31 dan Muktamar ke-48.
Prinsipnya adalah "satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia" (prinsip wilayatul hukmi al-'alami). Jika parameter kriteria baru (5-8 derajat) terpenuhi di satu bagian bumi mana pun, maka keesokan harinya dianggap sebagai tanggal 1 untuk seluruh dunia.
Wujudul Hilal (Lama): Menetapkan awal bulan asal piringan atas bulan sudah di atas ufuk (0 derajat) saat magrib, tanpa peduli bisa dilihat atau tidak. Bersifat lokal.
KHGT (Baru): Jauh lebih ketat. Mensyaratkan hilal harus mungkin terlihat (Imkanur Rukyat) secara global dengan syarat Tinggi min 5° dan Elongasi min 8°. Ini memastikan validitas secara sains dan syariah.
MABIMS (kriteria 3-6.4) menerapkan keterlihatan hilal secara lokal/regional. KHGT menerapkan kriteria yang lebih tinggi (5-8) namun dalam lingkup global. Cukup terpenuhi di satu tempat di bumi, berlaku untuk semua.
KHGT menggunakan hisab imkanur rukyat. Artinya, hisab digunakan untuk menghitung "keterlihatan". Dengan kriteria 5-8 derajat, hisab memprediksi bahwa hilal pasti bisa dirukyat (dilihat) jika kondisi atmosfer baik. Jadi, ini adalah rukyat yang dipastikan dengan hisab.
Tidak. Perintah "berpuasalah karena melihatnya" dipahami dalam konteks global. Jika hilal sudah memenuhi syarat visibilitas (5-8 derajat) di belahan bumi lain, maka kewajiban itu jatuh kepada seluruh muslim, termasuk yang belum melihatnya secara langsung.
Pendukung KHGT memahami bahwa seruan dalam hadis tersebut bersifat umum untuk seluruh umat Islam. Ini sejalan dengan prinsip Ittihadul Mathali' (kesatuan matlak). Rukyat yang valid secara saintifik (memenuhi kriteria 5-8) di satu tempat berlaku untuk seluruh dunia.
Ya, Surah Yunus ayat 5 dan Ar-Rahman ayat 5 menegaskan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan (husban). Ini menjadi legitimasi penggunaan hisab presisi tinggi yang digunakan dalam KHGT.
KHGT secara tegas mengambil pandangan Ittihadul Mathali' (kesatuan mathla'). Ini adalah pandangan mayoritas ulama mazhab (Hanafi, Maliki, Hanbali) yang menyatakan satu rukyat berlaku untuk seluruh negeri, berbeda dengan Wujudul Hilal atau MABIMS yang cenderung lokal.
Hisab dalam KHGT justru "mewujudkan" tujuan syariat yaitu kepastian. Hisab yang akurat dengan kriteria visibilitas tinggi (5-8) dipandang lebih unggul dalam memberikan kepastian global (qath'i) dibandingkan rukyat lokal yang sering terhalang cuaca.
Penolakan biasanya karena memegang teguh prinsip Ikhtilaful Mathali' (lokalitas) atau belum siap menerima perubahan kriteria dari metode lama ke metode global yang menyatukan.
Awal bulan dimulai jika pada hari ke-29: (1) Telah terjadi ijtimak sebelum magrib, (2) Bulan terbenam setelah matahari, dan (3) Memenuhi syarat visibilitas KHGT (Tinggi > 5 derajat, Elongasi > 8 derajat) di belahan bumi manapun.
Kriteria mutlak yang digunakan KHGT saat ini adalah Tinggi Hilal minimal 5 derajat dan Elongasi minimal 8 derajat. Ini adalah ambang batas aman di mana hilal secara ilmiah sudah bisa dilihat oleh mata manusia. Ini berbeda jauh dengan Wujudul Hilal yang 0 derajat.
Sangat akurat. Dengan kriteria 5-8, KHGT meminimalisir potensi kesalahan "klaim terlihat" pada hilal yang terlalu tipis. Jika hitungan KHGT menyatakan masuk bulan baru, maka secara fisik hilal memang sudah cukup tebal untuk dilihat.
Membatasi penentuan awal bulan hanya pada satu wilayah (seperti kriteria MABIMS atau Wujudul Hilal lama) mengabaikan fakta bahwa bulan adalah satelit global. Hal ini menciptakan perbedaan tanggal yang membingungkan.
Karena dalam KHGT, syaratnya bukan hanya ijtimak, tapi juga harus memenuhi kriteria visibilitas (5-8 derajat). Butuh waktu agar bulan bergeser menjauhi matahari untuk mencapai elongasi 8 derajat tersebut.
KHGT membentuk Garis Batas Tanggal Hijriah yang dinamis berdasarkan di mana kriteria 5-8 derajat pertama kali terpenuhi di muka bumi.
Karena prinsip "Satu Hari". Jika hilal (5-8 derajat) terlihat di Amerika, maka esok harinya adalah tanggal 1 untuk seluruh dunia. Indonesia ikut bukan karena mengekor Amerika, tapi karena mematuhi kesepakatan global bahwa tanggal baru telah tiba untuk planet Bumi.
KHGT memisahkan "waktu shalat" (yang lokal) dengan "tanggal kalender" (yang global). Tanggal 1 Ramadan bisa jatuh bersamaan di seluruh dunia, meskipun jam sahur dan bukanya berbeda-beda sesuai zona waktu.
Hisab KHGT memberikan kepastian. Jika perhitungan menunjukkan kriteria 5-8 sudah terpenuhi, bulan baru tetap dimulai meskipun cuaca mendung, karena secara astronomis hilal sudah ada dan memenuhi syarat terlihat.
Kriteria 5-8 (Usulan Turki/Muhammadiyah) saat ini dianggap paling ideal secara sains dan syar'i untuk menyatukan dunia. Ini adalah upgrade signifikan dari kriteria lama.
Turki (Diyanet) sudah lama menggunakan prinsip ini. Muhammadiyah di Indonesia akan menerapkannya mulai 2025. Komunitas muslim di Barat juga banyak yang menggunakannya.
Tantangan politik dan ego sektoral. Meyakinkan otoritas yang terbiasa dengan metode lokal (MABIMS) atau metode lama (Wujudul Hilal) untuk beralih ke kriteria global (5-8 derajat) memerlukan diplomasi kuat.
Ummul Qura berbeda dengan KHGT. Ummul Qura untuk sipil, rukyat untuk ibadah. KHGT ingin menyatukan keduanya dalam satu sistem global yang pasti.
Ya. Ini salah satu keunggulan utama KHGT dibanding metode lokal. Seluruh dunia akan berpuasa Arafah di hari yang sama saat jamaah haji wukuf.
Ya, dengan hisab kriteria 5-8, kalender bisa disusun sangat presisi untuk ratusan tahun ke depan.
Sangat vital. Komputasi modern memungkinkan kita menghitung kapan tepatnya elongasi 8 derajat tercapai dengan presisi detik.
Ya, prinsipnya sama. KHGT yang diadopsi Muhammadiyah selaras dengan hasil muktamar internasional di Turki 2016.
Jika semua beralih ke KHGT, tidak akan ada perbedaan. Namun di masa transisi, mungkin ada perbedaan jika ormas lain masih bertahan dengan rukyat lokal MABIMS.
Sidang isbat akan berubah fungsi menjadi pengumuman/konfirmasi administratif, bukan lagi "mencari" hilal, karena tanggal sudah diketahui pasti lewat kalender.
Biasanya maksimal 1 hari. KHGT mungkin menetapkan tanggal 1 lebih dulu jika hilal sudah tinggi di benua Amerika tapi belum terlihat di Indonesia.
Tidak selalu. Tergantung posisi bulan. Karena syarat KHGT (5-8 derajat) lebih berat dari Wujudul Hilal (0 derajat) dan MABIMS (3-6.4), ada kalanya KHGT justru menetapkan puasa belakangan (istikmal) dibanding metode Wujudul Hilal yang lama.
Sosialisasi masif bahwa Wujudul Hilal sudah tidak relevan untuk konteks global, dan KHGT adalah solusi masa depan.
Kepastian jadwal libur, tiket mudik, dan bisnis tanpa menunggu pengumuman "H-1" yang mendebarkan.
Anda bisa merujuk ke publikasi Majelis Tarjih PP Muhammadiyah terbaru atau website https://hisabmu.com/ yang memuat perhitungan berbasis kriteria baru KHGT.
Menerima perubahan metode ini dengan lapang dada, memahami bahwa meninggalkan Wujudul Hilal adalah demi persatuan umat yang lebih besar.
Tidak. KHGT adalah ijtihad solutif. Muhammadiyah menghargai perbedaan, namun memilih solusi yang menyatukan.
KHGT adalah ikhtiar Muhammadiyah untuk membangun satu sistem kalender Hijriah yang bersifat global. Ini adalah pengganti sistem Wujudul Hilal yang selama ini dipakai.
Mengatasi perbedaan penetapan awal bulan antarnegara. Dengan kriteria 5-8 derajat, diharapkan seluruh dunia bisa satu tanggal.
Muhammadiyah adalah inisiator utama di Indonesia, merujuk pada Konferensi Internasional di Istanbul 2016.
Kajian sudah dilakukan sejak 2007, dan puncaknya adalah keputusan untuk meninggalkan Wujudul Hilal menuju KHGT.
PENTING: Muhammadiyah mulai menerapkan KHGT secara penuh pada 1 Muharram 1447 H (26 Juni 2025 M). Sejak tanggal ini, metode Wujudul Hilal tidak lagi digunakan.
Karena Wujudul Hilal dianggap sudah "selesai" masa berlakunya dan perlu dimutakhirkan dengan sistem yang lebih canggih (KHGT) yang mengakomodir visibilitas global.
Ini adalah tajdid (pembaruan) gelombang kedua dalam astronomi Muhammadiyah. Gelombang pertama adalah beralih ke hisab (Wujudul Hilal), gelombang kedua adalah beralih ke hisab global (KHGT).
Dunia global butuh satu waktu. Menggunakan penanggalan lokal (seperti Wujudul Hilal atau MABIMS) di era internet dan perjalanan global sudah tidak relevan lagi.
Masalah perbedaan hari raya dan puasa yang terus berulang setiap tahun akibat metode lokal.
Kepastian (Certainty) dan Persatuan (Unity).
Saat terbenamnya matahari (Maghrib).
Surah Yasin ayat 40 dan praktik ibadah yang dimulai sejak malam.
Awal hari syar'i adalah Maghrib (lokal), awal hari sipil KHGT disinkronkan secara global untuk administrasi.
Menentukan waktu dimulainya ibadah shalat dan puasa.
00:00 UTC adalah batas administrasi ("Garis finish") untuk menentukan apakah hari itu sedunia masuk tanggal baru atau tidak, berdasarkan kriteria 5-8.
Tidak. Shalat magrib tetap saat matahari terbenam lokal. KHGT hanya menyatukan "nama tanggal"-nya.
Waktu keagamaan bersifat lokal (magrib), waktu administratif bersifat global (UTC).
Dengan membedakan fungsi: Maghrib untuk mulai ibadah, UTC untuk kesepakatan tanggal global.
Nash Al-Qur'an dan Hadits.
Ijtihad untuk kemaslahatan global (Maslahah Mursalah) dan Ittihadul Mathali'.
QS Al-Baqarah 185 dan 189.
"Berpuasalah kalian karena melihatnya..." (HR Bukhari Muslim).
Bahwa rukyat adalah sarana (wasilah) saat umat masih ummi (belum bisa hitung). Sekarang hisab lebih memberikan kepastian.
Karena illat (alasan) rukyat adalah ketidakmampuan berhitung. Jika sudah mampu berhitung akurat (hisab KHGT), maka illat berubah.
QS Yunus: 5 dan Ar-Rahman: 5.
Rukyat mendadak (H-1) dan tergantung cuaca. Hisab KHGT bisa memprediksi 100 tahun ke depan dengan kriteria 5-8 derajat.
Mustahil. Kalender butuh prediksi, rukyat butuh bukti saat kejadian. Hanya hisab yang bisa menyatukan kalender global.
Subjektif dan sering salah identifikasi (keliru melihat awan/planet sebagai hilal).
Hisab hakiki (dipakai di KHGT) berdasarkan posisi bulan sebenarnya. Hisab urfi (taksiran rata-rata) tidak akurat secara astronomis.
Karena tidak sesuai dengan perjalanan bulan yang sebenarnya di langit.
Tempat terbitnya hilal.
Pandangan yang dipegang KHGT: Satu terbit untuk semua. Hilal terlihat di Barat, berlaku untuk Timur.
Keumuman khitab "Berpuasalah kalian" ditujukan untuk seluruh umat Islam tanpa sekat negara.
Jumhur (mayoritas) ulama mazhab, kecuali Syafi'iyah yang cenderung lokal.
Pandangan bahwa setiap negeri punya tanggal sendiri-sendiri. Ini yang menyebabkan perbedaan hari raya.
Hadits Kuraib (rukyat lokal Madinah vs Syam).
Terutama Nahdlatul Ulama (NU) dan Pemerintah (MABIMS) saat ini.
Dulu belum ada telepon/internet. Kabar hilal dari negeri jauh tidak bisa sampai hari itu juga.
Sekarang kabar hilal bisa sampai dalam detik. Maka Ittihadul Mathali' (Rukyat Global) via KHGT menjadi wajib diterapkan.
KHGT adalah wujud modern dari pendapat Jumhur Ulama tentang kesatuan umat (Wilayatul Hukmi Global).
Posisi bulan segaris di antara bumi dan matahari (bulan mati/bulan baru astronomis).
Setelah bulan bergeser cukup jauh (elongasi) dan naik cukup tinggi (altitude) dari matahari.
Ketinggian (Altitude) dan Elongasi (Jarak Sudut). KHGT menetapkan standar tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
Agar hilal bebas dari cahaya syafak (senja) yang menyilaukan di ufuk. Syarat KHGT 5 derajat menjamin hal ini.
Agar piringan bulan yang terkena sinar matahari cukup tebal untuk dilihat mata. Syarat KHGT 8 derajat menjamin ketebalan ini.
Kondisi atmosfer, kontras cahaya, dan sensitivitas mata/alat.
Kriteria lama yang mensyaratkan: (1) Ijtimak terjadi, (2) Matahari terbenam duluan, (3) Bulan di atas ufuk (asal > 0 derajat). Metode ini kini sudah ditinggalkan oleh Muhammadiyah demi KHGT.
Secara sains, bulan yang tingginya 0,1 derajat mustahil dilihat. Inilah alasan Muhammadiyah beralih ke kriteria imkanur rukyat 5-8 derajat.
Kriteria pemerintah (3 derajat tinggi, 6.4 derajat elongasi) yang diterapkan secara lokal di Indonesia.
Ini kriteria baru Muhammadiyah. Syaratnya: Tinggi min 5 derajat, Elongasi min 8 derajat. Sangat ketat dan ilmiah.
Untuk menghilangkan keraguan. Dengan 5-8, hilal pasti bisa dilihat (jika cuaca cerah), sehingga hisab ini sangat kuat (qath'i) sebagai pengganti rukyat mata.
Perhitungan memastikan syarat fisik terpenuhi. Jadi kita "melihat" lewat perhitungan yang pasti.
Menjadi penentu objektif apakah klaim rukyat bisa diterima akal atau tidak.
Fase bulan terjadi di luar angkasa (global), visibilitas tergantung posisi pengamat di bumi (lokal). KHGT menyatukan ini dengan mengambil visibilitas pertama di bumi sebagai standar global.
Karena bulan terus bergerak menjauhi matahari. Ukurannya membesar secara fisik meski belum tentu terlihat oleh mata di lokasi tertentu.
1. Cek Kriteria Visibilitas (5-8 derajat). 2. Cek Batas Waktu Global (00:00 UTC).
Dicari: Di mana di muka bumi ini yang pertama kali memenuhi syarat tinggi 5 derajat dan elongasi 8 derajat saat matahari terbenam.
Wajib diingat: Tinggi >= 5 derajat DAN Elongasi >= 8 derajat.
Pukul 00:00 UTC (07:00 WIB).
Maka besoknya adalah tanggal 1 bulan baru untuk seluruh dunia.
Maka bulan berjalan digenapkan (istikmal) 30 hari. Tanggal 1 lusa.
Jika hilal terlihat di Amerika (setelah 00:00 UTC) tapi ijtimak terjadi sebelum fajar Selandia Baru, ada aturan khusus agar tidak terlambat masuk bulan baru.
KHGT menggunakan GTI 180 derajat sebagai batas pergantian hari, sama dengan kalender Masehi.
Agar tidak membingungkan. Hari Jumat di kalender Islam harus sama dengan hari Jumat di kalender sipil.
Dengan rumus astronomi presisi, posisi bulan 50 tahun lagi pun sudah bisa dihitung detik per detiknya.
Tidak. Karena ini hisab (prediksi). Kalender sudah dicetak tahun sebelumnya. Kita sudah tahu pasti kapan Tarawih mulai.
Sudah pasti terjawab di kalender. Tidak ada lagi "menunggu sidang isbat".
Jika kalender KHGT menetapkan 1 Ramadan jatuh hari Sabtu, maka Jumat malam warga Yogya sudah Tarawih, tanpa perlu menunggu rukyat di pantai Parangtritis.
Sesuai tanggal yang tertera di kalender (malam tanggal 1).
Saat fajar hari tanggal 1 Ramadan sesuai kalender global.
Bisa booking tiket haji/umrah atau liburan lebaran 5 tahun ke depan dengan tanggal yang pasti akurat.
Jamaah Indonesia dan Saudi akan lebaran bareng. Tidak ada lagi kasus "kurang hari puasa" karena beda start.
Prediktif. Dihitung di muka, bukan reaktif menunggu hasil teropong sore hari.
Perintah menggunakan perhitungan (hisab) untuk mengetahui bilangan tahun.
Kalender itu untuk semua manusia (global), bukan untuk "penduduk lokal" saja.
Agar "Al-Hajj" (Haji) bisa menjadi patokan waktu yang seragam bagi seluruh dunia.
Legitimasi sains (astronomi) sebagai landasan penentuan waktu ibadah.
Menolak interkalasi (nasi') atau utak-atik jumlah hari. KHGT konsisten 12 bulan murni.
Hitungan yang benar dan presisi. KHGT memenuhi ini dengan akurasi tinggi.
KHGT menjaga kemurnian siklus bulan tanpa menambah/mengurangi hari secara sembarangan.
"Puasa adalah hari kalian berpuasa..." (HR Tirmidzi). Maknanya kebersamaan (jama'i).
Kata ganti jamak "Kalian" berarti seluruh umat Islam sedunia, bukan kalian warga satu kampung saja.
Karena terjadi independen dari rotasi bumi. Satu bulan sama untuk semua.
Karena tergantung lokasi pengamat. KHGT mengatasi batasan lokal ini dengan prinsip global.
Momen ijtimak itu sangat singkat (detik), dan menjadi start line yang pasti.
Perbedaan kecepatan gerak membuat bulan menjauh dari matahari, membentuk sabit (hilal) yang makin besar.
Itulah kelemahan rukyat lokal. Di KHGT, jika sudah besar di satu tempat, diakui di seluruh dunia.
Mengamanatkan perlunya penyatuan kalender internasional.
Menegaskan bahwa KHGT adalah bagian dari dakwah Islam Berkemajuan di tingkat global.
Untuk mengakhiri ketidakpastian dan perpecahan umat akibat perbedaan hari raya.
Wujudul Hilal: Lokal, Kriteria 0 derajat.
KHGT: Global, Kriteria 5-8 derajat.
Muhammadiyah telah beralih dari yang pertama ke yang kedua.
Sama-sama menggunakan Hisab (perhitungan), bukan Rukyat mata telanjang. Tapi KHGT hisabnya lebih canggih dan kriterianya lebih tinggi.
Mulai 1 Muharram 1447 H (26 Juni 2025 M).
Belum adanya otoritas tunggal dunia Islam yang bisa memaksa seluruh negara ikut.
Masyarakat yang sudah terbiasa dengan "menunggu sidang isbat" atau fanatik pada rukyat lokal.
Edukasi tanpa henti dan diplomasi antar ormas/negara.
Agar umat paham bahwa beralih ke KHGT bukan berarti melanggar syariat, tapi justru menyempurnakannya.
Agar tidak terjadi gesekan keras saat masa transisi perubahan metode ini.
Agar KHGT punya payung hukum internasional yang kuat.
Agar umat Islam sedunia bisa berpuasa dan berlebaran di hari yang sama, bersatu dalam satu kalender yang pasti.